Khasiat Sambung Nyawa
Sambung nyawa
jdigunakan dalam upaya
penyembuhan penyakit
ginjal, disentri, infeksi
kerongkongan, di samping
itu digunakan pada upaya
menghentikan
perdarahan, mengatasi
tidak datang haid dan
gigitan binatang berbisa.
Sedangkan umbinya
untuk menghilangkan
bekuan darah
(haematom),
pembengkakan, patah
tulang, dan perdarahan
setelah melahirkan.
KEGUNAAN DI MASYARAKAT
Batang tanaman
Sambung nyawa sering
digunakan untuk
menurunkan demam.
Sambung nyawa juga
digunakan dalam upaya
penyembuhan penyakit
ginjal, disentri, infeksi
kerongkongan, di samping
itu digunakan pada upaya
menghentikan
perdarahan, mengatasi
tidak datang haid dan
gigitan binatang berbisa.
Umbi untuk
menghilangkan bekuan
darah (haematom),
pembengkakan, patah
tulang, dan perdarahan
setelah melahirkan.
CARA PEMAKAIAN DI
MASYARAKAT
Untuk mengatasi gigitan
ular / serangga
digunakan daun dan umbi
tumbuhan Sambung
nyawa 1 batang, kunyit
sebesar telur ayam 1 biji.
Kunyit dikupas, dicuci
kemudian ditumbuk
bersama bahan lain
hingga lembut. Tempelkan
pada luka dan dibalut
dengan air bersih.
Untuk mengatasi muntah
darah / perdarahan rahim
digunakan pohon
Sambung nyawa dan
umbinya 1 batang, kunyit
1 jari, kayu secang (tua)
yang telah diserut 1/4
genggam. Kunyit dikupas,
diiris tipis, kemudian
direbus bersama bahan
lainnya dengan air 2 gelas
hingga tinggal 1 1/2 gelas.
Angkat dan saring,
diminum 2 kali sehari ½
gelas.
Untuk penyembuhan bisul
digunakan daun Sambung
nyawa segar 8 gram
dicuci, ditumbuk sampai
lumat. Kemudian
ditempelkan pada bisul.
Daun dewa dan sambung
nyawa termasuk
tanaman liar yang banyak
dijumpai di pekarangan.
Meskipun demikian, masih
banyak yang belum
mengenal tanaman ini,
baik fisik maupun
manfaatnya. Tanaman
yang masih satu marga ini
ternyata menyimpan
berjuta potensi bagai
kesehatan tubuh.
Jumat, 17 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012
Sabtu, 28 Januari 2012
THE ISLAND OF TEMPLES
SENI BUDAYA JAWA
TENGAH
Kebudayaan Jawa
merupakan salah satu
sosok kebudayaan yang
tua. Kebudayaan Jawa
mengakar di Jawa
Tengah bermula dari
kebudayaan nenek
moyang yang bermukim di
tepian Sungai Bengawan
Solo pada ribuan tahun
sebelum Masehi. Fosil
manusia Jawa purba yang
kini menghuni Museum
Sangiran di Kabupaten
Sragen, merupakan saksi
sejarah, betapa tuanya
bumi Jawa Tengah
sebagai kawasan
pemukiman yang dengan
sendirinya merupakan
suatu kawasan budaya.
Dari kebudayaan purba
itulah kemudian tumbuh
dan berkembang sosok
kebudayaan Jawa klasik
yang hingga kini terus
bergerak menuju
kebudayaan Indonesia.
Kata klasik ini berasal dari
kata Clacius, yaitu nama
orang yang telah berhasil
menciptakan karya
sastra yang mempunyai
“nilai tinggi”. Maka
karya sastra yang tinggi
nilainya hasil karya
Clacius itu dinamakan
“Clacici”. Padahal
Clacici adalah golongan
ningrat/bangsawan,
sedangkan Clacius
termasuk golongan
ningrat, oleh karena itu
hasil karya seni yang
mempunyai nilai tinggi
disebut “seni klasik”.
Bengawan Solo bukan
hanya terkenal dengan
lagu ciptaan Gesang akan
tetapi lebih daripada itu
lembahnya terkenal
sebagai tempat dimana
banyak sekali
diketemukan fosil dan
peninggalan awal sejarah
kehidupan di atas bumi ini.
Pada tahun 1891 Eugene
Dubois menemukan sisa-
sisa manusia purba yang
diberi nama
“Phitecanthropus
Erectus” di daerah Trinil,
Ngawi Karesidenan
Madiun. Ternyata fosil-
fosil itu lebih purba (tua)
dan lebih primitif daripada
fosil-fosil Neanderthal
yang ditemukan di Eropa
sebelumnya. Penggalian-
penggalian diteruskan
hingga pada sekitar
tahun 1930-1931
ditemukan lagi fosil
manusia di Ngandong dan
di Kedungbrubus daerah
Sangiran. Fosil ini lebih tua
dari yang ditemukan di
Jerman maupun di Peking.
Berbeda dengan
penemuan di bagian dunia
lain, penemuan fosil-fosil
pulau Jawa didapat pada
semua lapisan Pleistoceen
dan tidak hanya pada
satu lapisan saja. Hingga
nampak jelas
perkembangan manusia
sejak dari bentuk
‘keorangan’nya yang
mula-mula (homonide),
sedang dari bagian lain di
dunia penemuan-
penemuan itu tidak
memberi gambaran yang
sedemikian lengkap.
Manusia purba itu
diperkirakan hidup dalam
kelompok-kelompok kecil
bahkan mungkin dalam
keluarga-keluarga yang
terdiri dari enam shingga
duabelas individu. Mereka
hidup berburu binatang di
sepanjang lembah-
lembah sungai. Cara hidup
seperti ini agaknya tetap
berlangsung selama satu
juta tahun. Kemudian
diketemukan sisa-sisa
artefak yang terdiri dari
alat-alat kapak batu di
sebuah situs di dekat
desa Pacitan, dalam
lapisan bumi yang
berdasarkan data geologi
diperkirakan berumur
800.00 tahun dan
diasosiasikan dengan fosil
Pithecanthropus yang
telah berevolusi lebih
jauh. Dengan demikian
diperkirakan bahwa
sejak paling sedikit
800.000 tahun yang lalu
para pemburu di pulau
Jawa sudah memiliki
suatu kebudayaan.
Manusia dan kebudayaan
merupakan suatu
kesatuan yang erat
sekali. Kedua-duanya
tidak mungkin dipisahkan.
Ada manusia ada
kebudayaan, tidak akan
ada kebudayaan jika
tidak ada pendukungnya,
yaitu manusia. Akan
tetapi manusia itu
hidupnya tidak berapa
lama, ia lalu mati. Maka
untuk melangsungkan
kebudayaan,
pendukungnya harus
lebih dari satu orang,
bahkan harus lebih dari
satu turunan. Jadi harus
diteruskan kepada anak
cucu keturunan
selanjutnya.
Kebudayaan Jawa klasik
yang keagungannya
diakui oleh dunia
internasional dapat dilihat
pada sejumlah warisan
sejarah yang berupa
candi, stupa, bahasa,
sastra, kesenian dan adat
istiadat. Candi Borobudur
di dekat Magelang, candi
Mendut, candi Pawon,
Candi Prambanan di dekat
Klaten, candi Dieng, candi
Gedongsongo dan candi
Sukuh merupakan
warisan kebudayaan
masa silam yang tak
ternilai harganya. Teks-
teks sastra yang
terpahat di batu-batu
prasasti, tergores di daun
lontar dan tertulis di
kitab-kitab merupakan
khasanah sastra Jawa
klasik yang hingga kini
tidak habis-habisnya
dikaji para ilmuwan. Ada
pula warisan kebudayaan
yang bermutu tinggi
dalam wujud seni tari,
seni musik, seni rupa, seni
pedalangan,seni
bangunan (arsitektur),
seni busana, adat istiadat,
dsbnya.
Masyarakat Jawa Tengah
sebagai ahli waris
kebudayaan Jawa klasik
bukanlah masyarakat
yang homogen atau
sewarna, melainkan
sebuah masyarakat
besar yang mekar dalam
keanekaragaman budaya.
Hal itu tercermin pada
tumbuhnya wilayah-
wilayah budaya yang
pada pokoknya terdiri
atas wilayah budaya
Negarigung, wilayah
budaya Banyumasan dan
wilayah budaya Pesisiran.
Wilayah budaya
Negarigung yang
mencakup daerah
Surakarta – Yogyakarta
dan sekitarnya
merupakan wilayah
budaya yang bergayutan
dengan tradisikraton
(Surakarta dan
Yogyakarta). Wilayah
budaya Banyumasan
menjangkau daerah
Banyumas, Kedu dan
Bagelen. Sedangkan
wilayah budaya pesisiran
meliputi daerah Pantai
Utara Jawa Tengah yang
memanjang dari Timur ke
Barat.
Keragaman budaya
tersebut merupakan
kondisi dasar yang
menguntungkan bagi
mekarnya kreatifitas
cipta, ras dan karsa yang
terwujud pada sikap
budaya.
Di daerah Jawa Tengah
segala macam bidang seni
tumbuh dan berkembang
dengan baik, dan hal ini
dapat kita saksikan pada
peninggalan-peninggalan
yang ada sekarang.
Provinsi Jawa Tengah
yang merupakan satu
dari sepuluh DTW (Daerah
Tujuan Wisata) di
Indonesia dapat dengan
mudah dijangkau dari
segala penjuru, baik
darat, laut maupun udara.
Provinsi ini telah melewati
sejarah yang panjang,
dari jaman purba hingga
sekarang.
Dalam usaha
memperkenalkan daerah
Jawa Tengah yang kaya
budaya dan potensi
alamnya, Provinsi Jawa
Tengah sebagaimana
provinsi-provinsi lain di
Indonesia, mempunyai
anjungan daerah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” yang juga
disebut “Anjungan Jawa
Tengah”. Anjungan
Jawa Tengah Taman Mini
“Indonesia Indah”
merupakan “show
window” dari daerah
Jawa Tengah.
Anjungan Jawa Tengah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” dibangun untuk
membawakan wajah
budaya dan
pembangunan Jawa
Tengah pada umunya.
Bangunan induk beserta
bangunan lain di
seputarnya secara
keseluruhan merupakan
kompleks perumahan
yang dinamakan
“Padepokan Jawa
Tengah”, yang
berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya
berupa “Pendopo
Agung”, tiruan dari
Pendopo Agung Istana
Mangkunegaran di
Surakarta, yang diakui
sebagai salah satu pusat
kebudayaan Jawa.
Propinsi Jawa Tengah
juga terkenal dengan
sebutan “The Island of
Temples”, karena
memang di Jawa Tengah
bertebaran candi-candi.
Miniatur dari candi
Borobudur, Prambanan
dan Mendut ditampilkan
pula di Padepokan Jawa
Tengah. Padepokan Jawa
Tengah juga merupakan
tempat untuk mengenal
seni bangunan Jawa yang
tidak hanya berupa
bangunan rumah tempat
tinggal tetapi juga seni
bangunan peninggalan
dari jaman
Sanjayawangça dan
Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang
berbentuk ”Joglo
Trajumas” itu berkesan
anggun karena atapnya
yang luas dengan
ditopang 4 (empat) Soko
guru (tiang pokok), 12
(dua belas) Soko Goco dan
20 (dua puluh) Soko
Rowo. Kesemuanya
membuat penampilan
bangunan itu berkesan
momot, artinya
berkemampuan
menampung segala hal,
sesuai dengan fungsinya
sebagai tempat menerima
tamu. Bangunan Pendopo
Agung ini masih
dihubungkan dengan
ruang Pringgitan, yang
aslinya sebagai tempat
pertunjukan ringgit atau
wayang kulit. Pringgitan
ini berarsitektur Limas.
Bangunan lain adalah
bentuk-bentuk rumah
adat “Joglo Tajuk
Mangkurat”, “Joglo
Pangrawit Apitan” dan
rumah bercorak “Doro
Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya
Anjungan Jawa Tengah
selalu mempergelarkan
kesenia-kesenian daerah
yang secara tetap
didatangkan dari
Kabupaten-kabupaten /
Kotamadya di Provinsi
Jawa Tengah di samping
pergelaran kesenian dari
sanggar-sanggar yang
ada di Ibukota, dengan
tidak meninggalkan
keadiluhungan nilai-nilai
budaya Jawa yang hingga
kini masih tampak
mewarnai berbagai aspek
seni budaya itu sendiri,
adat-istiadat dan tata
cara kehidupan
masyarakat Jawa
Tengah.
Bangunan Joglo
Pangrawit Apitan di
Anjungan Jawa Tengah
TMII terletak
bersebelahan dengan
sebuah panggung
terbuka yang berlatar
belakang sebuah bukit
dengan bangunan Makara
terbuat dari batu cadas
hitam bertuliskan kata-
kata “Ojo Dumeh”
dalam huruf Jawa
berukuran besar.
Perkataan Ojo Dumeh
mempunyai makna yang
dalam, sebab artinya,
“Jangan Sombong”,
sebuah anjuran untuk
senantiasa mampu
mengendalikan diri, justru
di saat seseorang merasa
mempunyai keberhasilan.
Di panggung inilah
pengunjung dapat
menyaksikan pergelaran
acara khusus Anjungan
yang biasanya
merupakan acara-acara
pilihan.
TENGAH
Kebudayaan Jawa
merupakan salah satu
sosok kebudayaan yang
tua. Kebudayaan Jawa
mengakar di Jawa
Tengah bermula dari
kebudayaan nenek
moyang yang bermukim di
tepian Sungai Bengawan
Solo pada ribuan tahun
sebelum Masehi. Fosil
manusia Jawa purba yang
kini menghuni Museum
Sangiran di Kabupaten
Sragen, merupakan saksi
sejarah, betapa tuanya
bumi Jawa Tengah
sebagai kawasan
pemukiman yang dengan
sendirinya merupakan
suatu kawasan budaya.
Dari kebudayaan purba
itulah kemudian tumbuh
dan berkembang sosok
kebudayaan Jawa klasik
yang hingga kini terus
bergerak menuju
kebudayaan Indonesia.
Kata klasik ini berasal dari
kata Clacius, yaitu nama
orang yang telah berhasil
menciptakan karya
sastra yang mempunyai
“nilai tinggi”. Maka
karya sastra yang tinggi
nilainya hasil karya
Clacius itu dinamakan
“Clacici”. Padahal
Clacici adalah golongan
ningrat/bangsawan,
sedangkan Clacius
termasuk golongan
ningrat, oleh karena itu
hasil karya seni yang
mempunyai nilai tinggi
disebut “seni klasik”.
Bengawan Solo bukan
hanya terkenal dengan
lagu ciptaan Gesang akan
tetapi lebih daripada itu
lembahnya terkenal
sebagai tempat dimana
banyak sekali
diketemukan fosil dan
peninggalan awal sejarah
kehidupan di atas bumi ini.
Pada tahun 1891 Eugene
Dubois menemukan sisa-
sisa manusia purba yang
diberi nama
“Phitecanthropus
Erectus” di daerah Trinil,
Ngawi Karesidenan
Madiun. Ternyata fosil-
fosil itu lebih purba (tua)
dan lebih primitif daripada
fosil-fosil Neanderthal
yang ditemukan di Eropa
sebelumnya. Penggalian-
penggalian diteruskan
hingga pada sekitar
tahun 1930-1931
ditemukan lagi fosil
manusia di Ngandong dan
di Kedungbrubus daerah
Sangiran. Fosil ini lebih tua
dari yang ditemukan di
Jerman maupun di Peking.
Berbeda dengan
penemuan di bagian dunia
lain, penemuan fosil-fosil
pulau Jawa didapat pada
semua lapisan Pleistoceen
dan tidak hanya pada
satu lapisan saja. Hingga
nampak jelas
perkembangan manusia
sejak dari bentuk
‘keorangan’nya yang
mula-mula (homonide),
sedang dari bagian lain di
dunia penemuan-
penemuan itu tidak
memberi gambaran yang
sedemikian lengkap.
Manusia purba itu
diperkirakan hidup dalam
kelompok-kelompok kecil
bahkan mungkin dalam
keluarga-keluarga yang
terdiri dari enam shingga
duabelas individu. Mereka
hidup berburu binatang di
sepanjang lembah-
lembah sungai. Cara hidup
seperti ini agaknya tetap
berlangsung selama satu
juta tahun. Kemudian
diketemukan sisa-sisa
artefak yang terdiri dari
alat-alat kapak batu di
sebuah situs di dekat
desa Pacitan, dalam
lapisan bumi yang
berdasarkan data geologi
diperkirakan berumur
800.00 tahun dan
diasosiasikan dengan fosil
Pithecanthropus yang
telah berevolusi lebih
jauh. Dengan demikian
diperkirakan bahwa
sejak paling sedikit
800.000 tahun yang lalu
para pemburu di pulau
Jawa sudah memiliki
suatu kebudayaan.
Manusia dan kebudayaan
merupakan suatu
kesatuan yang erat
sekali. Kedua-duanya
tidak mungkin dipisahkan.
Ada manusia ada
kebudayaan, tidak akan
ada kebudayaan jika
tidak ada pendukungnya,
yaitu manusia. Akan
tetapi manusia itu
hidupnya tidak berapa
lama, ia lalu mati. Maka
untuk melangsungkan
kebudayaan,
pendukungnya harus
lebih dari satu orang,
bahkan harus lebih dari
satu turunan. Jadi harus
diteruskan kepada anak
cucu keturunan
selanjutnya.
Kebudayaan Jawa klasik
yang keagungannya
diakui oleh dunia
internasional dapat dilihat
pada sejumlah warisan
sejarah yang berupa
candi, stupa, bahasa,
sastra, kesenian dan adat
istiadat. Candi Borobudur
di dekat Magelang, candi
Mendut, candi Pawon,
Candi Prambanan di dekat
Klaten, candi Dieng, candi
Gedongsongo dan candi
Sukuh merupakan
warisan kebudayaan
masa silam yang tak
ternilai harganya. Teks-
teks sastra yang
terpahat di batu-batu
prasasti, tergores di daun
lontar dan tertulis di
kitab-kitab merupakan
khasanah sastra Jawa
klasik yang hingga kini
tidak habis-habisnya
dikaji para ilmuwan. Ada
pula warisan kebudayaan
yang bermutu tinggi
dalam wujud seni tari,
seni musik, seni rupa, seni
pedalangan,seni
bangunan (arsitektur),
seni busana, adat istiadat,
dsbnya.
Masyarakat Jawa Tengah
sebagai ahli waris
kebudayaan Jawa klasik
bukanlah masyarakat
yang homogen atau
sewarna, melainkan
sebuah masyarakat
besar yang mekar dalam
keanekaragaman budaya.
Hal itu tercermin pada
tumbuhnya wilayah-
wilayah budaya yang
pada pokoknya terdiri
atas wilayah budaya
Negarigung, wilayah
budaya Banyumasan dan
wilayah budaya Pesisiran.
Wilayah budaya
Negarigung yang
mencakup daerah
Surakarta – Yogyakarta
dan sekitarnya
merupakan wilayah
budaya yang bergayutan
dengan tradisikraton
(Surakarta dan
Yogyakarta). Wilayah
budaya Banyumasan
menjangkau daerah
Banyumas, Kedu dan
Bagelen. Sedangkan
wilayah budaya pesisiran
meliputi daerah Pantai
Utara Jawa Tengah yang
memanjang dari Timur ke
Barat.
Keragaman budaya
tersebut merupakan
kondisi dasar yang
menguntungkan bagi
mekarnya kreatifitas
cipta, ras dan karsa yang
terwujud pada sikap
budaya.
Di daerah Jawa Tengah
segala macam bidang seni
tumbuh dan berkembang
dengan baik, dan hal ini
dapat kita saksikan pada
peninggalan-peninggalan
yang ada sekarang.
Provinsi Jawa Tengah
yang merupakan satu
dari sepuluh DTW (Daerah
Tujuan Wisata) di
Indonesia dapat dengan
mudah dijangkau dari
segala penjuru, baik
darat, laut maupun udara.
Provinsi ini telah melewati
sejarah yang panjang,
dari jaman purba hingga
sekarang.
Dalam usaha
memperkenalkan daerah
Jawa Tengah yang kaya
budaya dan potensi
alamnya, Provinsi Jawa
Tengah sebagaimana
provinsi-provinsi lain di
Indonesia, mempunyai
anjungan daerah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” yang juga
disebut “Anjungan Jawa
Tengah”. Anjungan
Jawa Tengah Taman Mini
“Indonesia Indah”
merupakan “show
window” dari daerah
Jawa Tengah.
Anjungan Jawa Tengah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” dibangun untuk
membawakan wajah
budaya dan
pembangunan Jawa
Tengah pada umunya.
Bangunan induk beserta
bangunan lain di
seputarnya secara
keseluruhan merupakan
kompleks perumahan
yang dinamakan
“Padepokan Jawa
Tengah”, yang
berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya
berupa “Pendopo
Agung”, tiruan dari
Pendopo Agung Istana
Mangkunegaran di
Surakarta, yang diakui
sebagai salah satu pusat
kebudayaan Jawa.
Propinsi Jawa Tengah
juga terkenal dengan
sebutan “The Island of
Temples”, karena
memang di Jawa Tengah
bertebaran candi-candi.
Miniatur dari candi
Borobudur, Prambanan
dan Mendut ditampilkan
pula di Padepokan Jawa
Tengah. Padepokan Jawa
Tengah juga merupakan
tempat untuk mengenal
seni bangunan Jawa yang
tidak hanya berupa
bangunan rumah tempat
tinggal tetapi juga seni
bangunan peninggalan
dari jaman
Sanjayawangça dan
Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang
berbentuk ”Joglo
Trajumas” itu berkesan
anggun karena atapnya
yang luas dengan
ditopang 4 (empat) Soko
guru (tiang pokok), 12
(dua belas) Soko Goco dan
20 (dua puluh) Soko
Rowo. Kesemuanya
membuat penampilan
bangunan itu berkesan
momot, artinya
berkemampuan
menampung segala hal,
sesuai dengan fungsinya
sebagai tempat menerima
tamu. Bangunan Pendopo
Agung ini masih
dihubungkan dengan
ruang Pringgitan, yang
aslinya sebagai tempat
pertunjukan ringgit atau
wayang kulit. Pringgitan
ini berarsitektur Limas.
Bangunan lain adalah
bentuk-bentuk rumah
adat “Joglo Tajuk
Mangkurat”, “Joglo
Pangrawit Apitan” dan
rumah bercorak “Doro
Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya
Anjungan Jawa Tengah
selalu mempergelarkan
kesenia-kesenian daerah
yang secara tetap
didatangkan dari
Kabupaten-kabupaten /
Kotamadya di Provinsi
Jawa Tengah di samping
pergelaran kesenian dari
sanggar-sanggar yang
ada di Ibukota, dengan
tidak meninggalkan
keadiluhungan nilai-nilai
budaya Jawa yang hingga
kini masih tampak
mewarnai berbagai aspek
seni budaya itu sendiri,
adat-istiadat dan tata
cara kehidupan
masyarakat Jawa
Tengah.
Bangunan Joglo
Pangrawit Apitan di
Anjungan Jawa Tengah
TMII terletak
bersebelahan dengan
sebuah panggung
terbuka yang berlatar
belakang sebuah bukit
dengan bangunan Makara
terbuat dari batu cadas
hitam bertuliskan kata-
kata “Ojo Dumeh”
dalam huruf Jawa
berukuran besar.
Perkataan Ojo Dumeh
mempunyai makna yang
dalam, sebab artinya,
“Jangan Sombong”,
sebuah anjuran untuk
senantiasa mampu
mengendalikan diri, justru
di saat seseorang merasa
mempunyai keberhasilan.
Di panggung inilah
pengunjung dapat
menyaksikan pergelaran
acara khusus Anjungan
yang biasanya
merupakan acara-acara
pilihan.
Kamis, 26 Januari 2012
Kiamat Tak Datang Tahun 2012
TEMPO.CO- SETIAP tahun
menyimpan misterinya
sendiri. Pasti banyak alasan
yang membuat sebagian
orang percaya pergantian
tahun bukan hanya soal
menyobek halaman
kalender.
Para penghayat ramalan
yakin sekali tahun 2012
merupakan tahun naga air.
Menurut mereka itu artinya
tahun cerah, di mana-mana
akan terjadi perbaikan.
Tahun naga air kabarnya
menjernihkan dan
mendinginkan yang keruh
dan panas. Sifat panas
tahun lalu akanberubah
menjadi tenang. Tapi,
lantaran berurusan dengan
air, semua sifat air
termasuk yang buruk,
konon akan terjadi. Akan
banyak peristiwa berkaitan
dengan air, misalnya banjir.
Anda percaya? Terserah.
Tak ada hukum di negeri
kita yang melarang orang
meyakini satu ramalan
Ramalan yang paling
mendebarkan tentang 2012
tentulah datangnya kiamat
pada 21 Desember nanti –
ada juga yang percaya
tanggal 23 atau 24
Desember. Ramalan ini
bersumber pada kalender
suku Maya --suku bangsa
yang pernah hidup di
Selatan Meksiko, di sekitar
Guatemala. Suku bangsa
yang dikenal mahir dalam
ilmu falak dan sistem
perhitungan masa ini
menyebutkan bahwa hari
itu datang gelombang
galaksi besar yang
membuat macet semua
aktivitas di muka bumi.
Kalender Maya dibuat
berdasarkan Tujuh Zaman
(Usia) Manusia. Zaman
keempat berakhir pada
bulan Agustus 1987.
Kalender Maya akan
berakhir pada Minggu, 23
Desember 2012. Suku Maya
percaya hanya sedikit
orang yang akan bertahan
dari bencana yang terjadi
kemudian. Dalam usia kelima,
manusia akan menyadari
tujuan spiritual. Dalam usia
keenam, manusia akan
menyadari Tuhan berada di
dalam dirinya. Di usia
ketujuh, manusia akan
menjadi begitu spiritualis
dan berkemampuan
telepati.
Sebuah blog di internet,
VANtheyologist, mengutip
pendapat ahli, menyatakan
akan muncul badai matahari.
Badai akan muncul ketika
terjadi ledakan besar (flare)
di atmosfer matahari dan itu
memunculkan daya sekuat
66 juta kali bom atom
Hiroshima. Bersamaan
dengan itu, terjadi juga
»coronal mass ejection”,
juga peristiwa ledakan
yang diduga menyebabkan
lontaran partikel
berkecepatan 400 kilometer
per detik.
Gangguan cuaca matahari
itu mempengaruhi kondisi
antariksa, termasuk
mempengaruhi magnet
planet bumi. Dampaknya
akan terjadi pada sistem
kelistrikan, transportasi
yang mengandalkan global
positioning system, dan juga
komunikasi yang
mengandalkan satelit dan
gelombang frekuensi tinggi.
Sistem kerja alat
kesehatan, seperti alat
pacu jantung, juga
diprediksi akan bermasalah.
Dua prediksi mengerikan ini
barangkali tidak berkaitan.
Kalender bangsa Maya
menghitung hari akhir dari
tahun ke-13 Bak’tun
(siklus 5.125 tahunan), yang
jatuh 21 Desember 2012.
Reaksi orang macam-
macam. Ada sebuah pesta
dansa yang sudah
direncanakan digelar besar-
besaran di Oslo pada malam
20-21 Desember nanti.
Sudah 14 ribu pengguna
Facebook menyatakan hadir
di pesta »perpisahan” itu.
Bangsa Aztec yang pernah
berdiam di Meksiko juga
meyakini kiamat akan
datang pada 2012. Kalender
suci Aztec, yang disebut
Eagle Bowl, mewakili
pergerakan dewa surya
Tonatiuh. Kalender itu
sangat akurat dan telah
digunakan dalam berbagai
bentuk selama lebih dari
2.000 tahun. Sebuah
ramalan dari Eagle Bowl
menyatakan, »Setelah
Sorga Tiga Belas Pilihan
Menurun, dan Sembilan
Neraka Malapetaka yang
Meningkat, Pohon
Kehidupan akan berbunga
dengan buah yang tak
pernah diciptakan
sebelumnya, buah itulah
Spirit Baru Kehidupan.”
Tiga belas Sorga dan
Sembilan Neraka itu
panjangnya masing-masing
52 tahun – sehingga
totalnya 1.144 tahun. Setiap
Sembilan Neraka itu datang,
maka dampaknya lebih
buruk dari yang terakhir.
Hari terakhir Neraka datang
diyakini jatuh pada 17
Agustus 1987. Ketika itu,
Tezcatlipoca, dewa
kematian, menanggalkan
topeng batu giok untuk
mengungkapkan dirinya
sebagai Quetzelcoatl atau
dewa perdamaian.
Dalam mitologi suku Aztec,
usia manusia pertama
berakhir dengan hewan
melahap manusia. Usia
kedua selesai oleh angin,
yang ketiga oleh api, dan
keempat oleh air. Kelima
zaman sekarang itu disebut
Nahui-Olin (Matahari
Gempa), dan dimulai pada
3113 SM dan akan berakhir
pada tanggal 24 Desember
2011.
Tanggal itu akan menjadi
penghancuran terakhir dari
keberadaan manusia di
bumi. Tanggal itu
bertepatan dengan yang
ditentukan oleh McKenna
Bersaudara dalam »The
Invisible Landscape”
sebagai akhir sejarah. Hal ini
mereka tunjukkan atas
dasar analisa komputer dari
kalender kuno Cina yang
disebut I Ching.
Sebelum terlanjur percaya
pada ramalan Maya atau
Aztec, dan Anda bersiap-
siap sembunyi dalam goa
atau berlayar di laut pada
tanggal itu, Anda perlu
menyimak kolom Joel Stein
di Majalah Time edisi 9
Januari. Jurnalis yang
menulis untuk Los Angeles
Times dan kontributor
Majalah Time ini agaknya
penasaran dengan ramalan
kiamat itu.
Stein kemudian
menghubungi David Stuart,
seorang sarjana keturunan
bangsa Maya yang ketika
berusia 18 tahun pada 1984
menerima bea siswa
MacArthur –dan
merupakan penerima
termuda bea siswa itu
sampai sekarang. Ternyata
Stuart tak bisa dihubungi
sebab dia sedang berada di
Guatemala, tapi Stuart
membalas email dari Joel
Stein. Ternyata pendapat
Stuart tentang kiamat itu
sungguh meredakan
kecemasan banyak orang.
»Ramalan akhir dari
kalender (Maya) diciptakan
oleh orang yang
sepenuhnya tidak mengerti
tentang suku bangsa Maya
kuno,” tulis Stuart.
Joel Stein juga menghubungi
Robert Sitler, profesor
bahasa dan literature
modern dari Universitas
Stetson. Sitler pernah
mengembara di kawasan
yang dihuni suku bangsa
Maya, daerah di antara
Meksiko dan Guatemala,
selama 35 tahun. Sitler
bertanya pada 200 orang
Maya tentang apa yang
terjadi pada 21 Desember
2012 –hari terakhir dari
tahun ke-13 Bak’tun.
Menurut Sitler, tak seorang
pun dari orang Maya yang
ditemuinya tahu tentang
kalender Maya. Artinya,
kalender itu sudah tidak
dipergunakan ratusan
tahun. Barangkali karena
mereka menonton film dan
televisi Amerika dua tahun
terakhir yang penuh tema
kiamat, maka sebagian
orang Maya ingat kembali
pada kalender nenek-
moyang mereka dulu.
Bahkan, Sitler yang
diundang ceramah di
beberapa tempat untuk
meluruskan ramalan
tentang kalender Maya itu.
Walau begitu, dalam satu
bagian ceramahnya, Sitler
bercerita tentang ramalan
Mesir kuno tentang akan
datangnya Dewa Bolon
Yokte, pembawa perang,
pertentangan dan
perselisihan.
Stein juga sempat datang
ke Meksiko. Ia bicara
dengan banyak orang
keturunan Maya, bangsa
yang dalam waktu lama
terus menerus diperangi
pemerintah Meksiko. Pada
Stein, orang-orang
berdarah Maya itu
menjelaskan, yang
dimaksud akhir ke-13
Bak’tun bukanlah akhir
zaman, tapi awal dari
sebuah era baru. Tahun
yang lain akan datang,
tahun yang membawa hal-
hal baru.
Anda boleh percaya atau
tidak..
Berbagai sumber/TIME/
Wikipedia/TH
menyimpan misterinya
sendiri. Pasti banyak alasan
yang membuat sebagian
orang percaya pergantian
tahun bukan hanya soal
menyobek halaman
kalender.
Para penghayat ramalan
yakin sekali tahun 2012
merupakan tahun naga air.
Menurut mereka itu artinya
tahun cerah, di mana-mana
akan terjadi perbaikan.
Tahun naga air kabarnya
menjernihkan dan
mendinginkan yang keruh
dan panas. Sifat panas
tahun lalu akanberubah
menjadi tenang. Tapi,
lantaran berurusan dengan
air, semua sifat air
termasuk yang buruk,
konon akan terjadi. Akan
banyak peristiwa berkaitan
dengan air, misalnya banjir.
Anda percaya? Terserah.
Tak ada hukum di negeri
kita yang melarang orang
meyakini satu ramalan
Ramalan yang paling
mendebarkan tentang 2012
tentulah datangnya kiamat
pada 21 Desember nanti –
ada juga yang percaya
tanggal 23 atau 24
Desember. Ramalan ini
bersumber pada kalender
suku Maya --suku bangsa
yang pernah hidup di
Selatan Meksiko, di sekitar
Guatemala. Suku bangsa
yang dikenal mahir dalam
ilmu falak dan sistem
perhitungan masa ini
menyebutkan bahwa hari
itu datang gelombang
galaksi besar yang
membuat macet semua
aktivitas di muka bumi.
Kalender Maya dibuat
berdasarkan Tujuh Zaman
(Usia) Manusia. Zaman
keempat berakhir pada
bulan Agustus 1987.
Kalender Maya akan
berakhir pada Minggu, 23
Desember 2012. Suku Maya
percaya hanya sedikit
orang yang akan bertahan
dari bencana yang terjadi
kemudian. Dalam usia kelima,
manusia akan menyadari
tujuan spiritual. Dalam usia
keenam, manusia akan
menyadari Tuhan berada di
dalam dirinya. Di usia
ketujuh, manusia akan
menjadi begitu spiritualis
dan berkemampuan
telepati.
Sebuah blog di internet,
VANtheyologist, mengutip
pendapat ahli, menyatakan
akan muncul badai matahari.
Badai akan muncul ketika
terjadi ledakan besar (flare)
di atmosfer matahari dan itu
memunculkan daya sekuat
66 juta kali bom atom
Hiroshima. Bersamaan
dengan itu, terjadi juga
»coronal mass ejection”,
juga peristiwa ledakan
yang diduga menyebabkan
lontaran partikel
berkecepatan 400 kilometer
per detik.
Gangguan cuaca matahari
itu mempengaruhi kondisi
antariksa, termasuk
mempengaruhi magnet
planet bumi. Dampaknya
akan terjadi pada sistem
kelistrikan, transportasi
yang mengandalkan global
positioning system, dan juga
komunikasi yang
mengandalkan satelit dan
gelombang frekuensi tinggi.
Sistem kerja alat
kesehatan, seperti alat
pacu jantung, juga
diprediksi akan bermasalah.
Dua prediksi mengerikan ini
barangkali tidak berkaitan.
Kalender bangsa Maya
menghitung hari akhir dari
tahun ke-13 Bak’tun
(siklus 5.125 tahunan), yang
jatuh 21 Desember 2012.
Reaksi orang macam-
macam. Ada sebuah pesta
dansa yang sudah
direncanakan digelar besar-
besaran di Oslo pada malam
20-21 Desember nanti.
Sudah 14 ribu pengguna
Facebook menyatakan hadir
di pesta »perpisahan” itu.
Bangsa Aztec yang pernah
berdiam di Meksiko juga
meyakini kiamat akan
datang pada 2012. Kalender
suci Aztec, yang disebut
Eagle Bowl, mewakili
pergerakan dewa surya
Tonatiuh. Kalender itu
sangat akurat dan telah
digunakan dalam berbagai
bentuk selama lebih dari
2.000 tahun. Sebuah
ramalan dari Eagle Bowl
menyatakan, »Setelah
Sorga Tiga Belas Pilihan
Menurun, dan Sembilan
Neraka Malapetaka yang
Meningkat, Pohon
Kehidupan akan berbunga
dengan buah yang tak
pernah diciptakan
sebelumnya, buah itulah
Spirit Baru Kehidupan.”
Tiga belas Sorga dan
Sembilan Neraka itu
panjangnya masing-masing
52 tahun – sehingga
totalnya 1.144 tahun. Setiap
Sembilan Neraka itu datang,
maka dampaknya lebih
buruk dari yang terakhir.
Hari terakhir Neraka datang
diyakini jatuh pada 17
Agustus 1987. Ketika itu,
Tezcatlipoca, dewa
kematian, menanggalkan
topeng batu giok untuk
mengungkapkan dirinya
sebagai Quetzelcoatl atau
dewa perdamaian.
Dalam mitologi suku Aztec,
usia manusia pertama
berakhir dengan hewan
melahap manusia. Usia
kedua selesai oleh angin,
yang ketiga oleh api, dan
keempat oleh air. Kelima
zaman sekarang itu disebut
Nahui-Olin (Matahari
Gempa), dan dimulai pada
3113 SM dan akan berakhir
pada tanggal 24 Desember
2011.
Tanggal itu akan menjadi
penghancuran terakhir dari
keberadaan manusia di
bumi. Tanggal itu
bertepatan dengan yang
ditentukan oleh McKenna
Bersaudara dalam »The
Invisible Landscape”
sebagai akhir sejarah. Hal ini
mereka tunjukkan atas
dasar analisa komputer dari
kalender kuno Cina yang
disebut I Ching.
Sebelum terlanjur percaya
pada ramalan Maya atau
Aztec, dan Anda bersiap-
siap sembunyi dalam goa
atau berlayar di laut pada
tanggal itu, Anda perlu
menyimak kolom Joel Stein
di Majalah Time edisi 9
Januari. Jurnalis yang
menulis untuk Los Angeles
Times dan kontributor
Majalah Time ini agaknya
penasaran dengan ramalan
kiamat itu.
Stein kemudian
menghubungi David Stuart,
seorang sarjana keturunan
bangsa Maya yang ketika
berusia 18 tahun pada 1984
menerima bea siswa
MacArthur –dan
merupakan penerima
termuda bea siswa itu
sampai sekarang. Ternyata
Stuart tak bisa dihubungi
sebab dia sedang berada di
Guatemala, tapi Stuart
membalas email dari Joel
Stein. Ternyata pendapat
Stuart tentang kiamat itu
sungguh meredakan
kecemasan banyak orang.
»Ramalan akhir dari
kalender (Maya) diciptakan
oleh orang yang
sepenuhnya tidak mengerti
tentang suku bangsa Maya
kuno,” tulis Stuart.
Joel Stein juga menghubungi
Robert Sitler, profesor
bahasa dan literature
modern dari Universitas
Stetson. Sitler pernah
mengembara di kawasan
yang dihuni suku bangsa
Maya, daerah di antara
Meksiko dan Guatemala,
selama 35 tahun. Sitler
bertanya pada 200 orang
Maya tentang apa yang
terjadi pada 21 Desember
2012 –hari terakhir dari
tahun ke-13 Bak’tun.
Menurut Sitler, tak seorang
pun dari orang Maya yang
ditemuinya tahu tentang
kalender Maya. Artinya,
kalender itu sudah tidak
dipergunakan ratusan
tahun. Barangkali karena
mereka menonton film dan
televisi Amerika dua tahun
terakhir yang penuh tema
kiamat, maka sebagian
orang Maya ingat kembali
pada kalender nenek-
moyang mereka dulu.
Bahkan, Sitler yang
diundang ceramah di
beberapa tempat untuk
meluruskan ramalan
tentang kalender Maya itu.
Walau begitu, dalam satu
bagian ceramahnya, Sitler
bercerita tentang ramalan
Mesir kuno tentang akan
datangnya Dewa Bolon
Yokte, pembawa perang,
pertentangan dan
perselisihan.
Stein juga sempat datang
ke Meksiko. Ia bicara
dengan banyak orang
keturunan Maya, bangsa
yang dalam waktu lama
terus menerus diperangi
pemerintah Meksiko. Pada
Stein, orang-orang
berdarah Maya itu
menjelaskan, yang
dimaksud akhir ke-13
Bak’tun bukanlah akhir
zaman, tapi awal dari
sebuah era baru. Tahun
yang lain akan datang,
tahun yang membawa hal-
hal baru.
Anda boleh percaya atau
tidak..
Berbagai sumber/TIME/
Wikipedia/TH
Kiamat Tak Datang Tahun 2012
TEMPO.CO- SETIAP tahun
menyimpan misterinya
sendiri. Pasti banyak alasan
yang membuat sebagian
orang percaya pergantian
tahun bukan hanya soal
menyobek halaman
kalender.
Para penghayat ramalan
yakin sekali tahun 2012
merupakan tahun naga air.
Menurut mereka itu artinya
tahun cerah, di mana-mana
akan terjadi perbaikan.
Tahun naga air kabarnya
menjernihkan dan
mendinginkan yang keruh
dan panas. Sifat panas
tahun lalu akanberubah
menjadi tenang. Tapi,
lantaran berurusan dengan
air, semua sifat air
termasuk yang buruk,
konon akan terjadi. Akan
banyak peristiwa berkaitan
dengan air, misalnya banjir.
Anda percaya? Terserah.
Tak ada hukum di negeri
kita yang melarang orang
meyakini satu ramalan
Ramalan yang paling
mendebarkan tentang 2012
tentulah datangnya kiamat
pada 21 Desember nanti –
ada juga yang percaya
tanggal 23 atau 24
Desember. Ramalan ini
bersumber pada kalender
suku Maya --suku bangsa
yang pernah hidup di
Selatan Meksiko, di sekitar
Guatemala. Suku bangsa
yang dikenal mahir dalam
ilmu falak dan sistem
perhitungan masa ini
menyebutkan bahwa hari
itu datang gelombang
galaksi besar yang
membuat macet semua
aktivitas di muka bumi.
Kalender Maya dibuat
berdasarkan Tujuh Zaman
(Usia) Manusia. Zaman
keempat berakhir pada
bulan Agustus 1987.
Kalender Maya akan
berakhir pada Minggu, 23
Desember 2012. Suku Maya
percaya hanya sedikit
orang yang akan bertahan
dari bencana yang terjadi
kemudian. Dalam usia kelima,
manusia akan menyadari
tujuan spiritual. Dalam usia
keenam, manusia akan
menyadari Tuhan berada di
dalam dirinya. Di usia
ketujuh, manusia akan
menjadi begitu spiritualis
dan berkemampuan
telepati.
Sebuah blog di internet,
VANtheyologist, mengutip
pendapat ahli, menyatakan
akan muncul badai matahari.
Badai akan muncul ketika
terjadi ledakan besar (flare)
di atmosfer matahari dan itu
memunculkan daya sekuat
66 juta kali bom atom
Hiroshima. Bersamaan
dengan itu, terjadi juga
»coronal mass ejection”,
juga peristiwa ledakan
yang diduga menyebabkan
lontaran partikel
berkecepatan 400 kilometer
per detik.
Gangguan cuaca matahari
itu mempengaruhi kondisi
antariksa, termasuk
mempengaruhi magnet
planet bumi. Dampaknya
akan terjadi pada sistem
kelistrikan, transportasi
yang mengandalkan global
positioning system, dan juga
komunikasi yang
mengandalkan satelit dan
gelombang frekuensi tinggi.
Sistem kerja alat
kesehatan, seperti alat
pacu jantung, juga
diprediksi akan bermasalah.
Dua prediksi mengerikan ini
barangkali tidak berkaitan.
Kalender bangsa Maya
menghitung hari akhir dari
tahun ke-13 Bak’tun
(siklus 5.125 tahunan), yang
jatuh 21 Desember 2012.
Reaksi orang macam-
macam. Ada sebuah pesta
dansa yang sudah
direncanakan digelar besar-
besaran di Oslo pada malam
20-21 Desember nanti.
Sudah 14 ribu pengguna
Facebook menyatakan hadir
di pesta »perpisahan” itu.
Bangsa Aztec yang pernah
berdiam di Meksiko juga
meyakini kiamat akan
datang pada 2012. Kalender
suci Aztec, yang disebut
Eagle Bowl, mewakili
pergerakan dewa surya
Tonatiuh. Kalender itu
sangat akurat dan telah
digunakan dalam berbagai
bentuk selama lebih dari
2.000 tahun. Sebuah
ramalan dari Eagle Bowl
menyatakan, »Setelah
Sorga Tiga Belas Pilihan
Menurun, dan Sembilan
Neraka Malapetaka yang
Meningkat, Pohon
Kehidupan akan berbunga
dengan buah yang tak
pernah diciptakan
sebelumnya, buah itulah
Spirit Baru Kehidupan.”
Tiga belas Sorga dan
Sembilan Neraka itu
panjangnya masing-masing
52 tahun – sehingga
totalnya 1.144 tahun. Setiap
Sembilan Neraka itu datang,
maka dampaknya lebih
buruk dari yang terakhir.
Hari terakhir Neraka datang
diyakini jatuh pada 17
Agustus 1987. Ketika itu,
Tezcatlipoca, dewa
kematian, menanggalkan
topeng batu giok untuk
mengungkapkan dirinya
sebagai Quetzelcoatl atau
dewa perdamaian.
Dalam mitologi suku Aztec,
usia manusia pertama
berakhir dengan hewan
melahap manusia. Usia
kedua selesai oleh angin,
yang ketiga oleh api, dan
keempat oleh air. Kelima
zaman sekarang itu disebut
Nahui-Olin (Matahari
Gempa), dan dimulai pada
3113 SM dan akan berakhir
pada tanggal 24 Desember
2011.
Tanggal itu akan menjadi
penghancuran terakhir dari
keberadaan manusia di
bumi. Tanggal itu
bertepatan dengan yang
ditentukan oleh McKenna
Bersaudara dalam »The
Invisible Landscape”
sebagai akhir sejarah. Hal ini
mereka tunjukkan atas
dasar analisa komputer dari
kalender kuno Cina yang
disebut I Ching.
Sebelum terlanjur percaya
pada ramalan Maya atau
Aztec, dan Anda bersiap-
siap sembunyi dalam goa
atau berlayar di laut pada
tanggal itu, Anda perlu
menyimak kolom Joel Stein
di Majalah Time edisi 9
Januari. Jurnalis yang
menulis untuk Los Angeles
Times dan kontributor
Majalah Time ini agaknya
penasaran dengan ramalan
kiamat itu.
Stein kemudian
menghubungi David Stuart,
seorang sarjana keturunan
bangsa Maya yang ketika
berusia 18 tahun pada 1984
menerima bea siswa
MacArthur –dan
merupakan penerima
termuda bea siswa itu
sampai sekarang. Ternyata
Stuart tak bisa dihubungi
sebab dia sedang berada di
Guatemala, tapi Stuart
membalas email dari Joel
Stein. Ternyata pendapat
Stuart tentang kiamat itu
sungguh meredakan
kecemasan banyak orang.
»Ramalan akhir dari
kalender (Maya) diciptakan
oleh orang yang
sepenuhnya tidak mengerti
tentang suku bangsa Maya
kuno,” tulis Stuart.
Joel Stein juga menghubungi
Robert Sitler, profesor
bahasa dan literature
modern dari Universitas
Stetson. Sitler pernah
mengembara di kawasan
yang dihuni suku bangsa
Maya, daerah di antara
Meksiko dan Guatemala,
selama 35 tahun. Sitler
bertanya pada 200 orang
Maya tentang apa yang
terjadi pada 21 Desember
2012 –hari terakhir dari
tahun ke-13 Bak’tun.
Menurut Sitler, tak seorang
pun dari orang Maya yang
ditemuinya tahu tentang
kalender Maya. Artinya,
kalender itu sudah tidak
dipergunakan ratusan
tahun. Barangkali karena
mereka menonton film dan
televisi Amerika dua tahun
terakhir yang penuh tema
kiamat, maka sebagian
orang Maya ingat kembali
pada kalender nenek-
moyang mereka dulu.
Bahkan, Sitler yang
diundang ceramah di
beberapa tempat untuk
meluruskan ramalan
tentang kalender Maya itu.
Walau begitu, dalam satu
bagian ceramahnya, Sitler
bercerita tentang ramalan
Mesir kuno tentang akan
datangnya Dewa Bolon
Yokte, pembawa perang,
pertentangan dan
perselisihan.
Stein juga sempat datang
ke Meksiko. Ia bicara
dengan banyak orang
keturunan Maya, bangsa
yang dalam waktu lama
terus menerus diperangi
pemerintah Meksiko. Pada
Stein, orang-orang
berdarah Maya itu
menjelaskan, yang
dimaksud akhir ke-13
Bak’tun bukanlah akhir
zaman, tapi awal dari
sebuah era baru. Tahun
yang lain akan datang,
tahun yang membawa hal-
hal baru.
Anda boleh percaya atau
tidak..
Berbagai sumber/TIME/
Wikipedia/TH
menyimpan misterinya
sendiri. Pasti banyak alasan
yang membuat sebagian
orang percaya pergantian
tahun bukan hanya soal
menyobek halaman
kalender.
Para penghayat ramalan
yakin sekali tahun 2012
merupakan tahun naga air.
Menurut mereka itu artinya
tahun cerah, di mana-mana
akan terjadi perbaikan.
Tahun naga air kabarnya
menjernihkan dan
mendinginkan yang keruh
dan panas. Sifat panas
tahun lalu akanberubah
menjadi tenang. Tapi,
lantaran berurusan dengan
air, semua sifat air
termasuk yang buruk,
konon akan terjadi. Akan
banyak peristiwa berkaitan
dengan air, misalnya banjir.
Anda percaya? Terserah.
Tak ada hukum di negeri
kita yang melarang orang
meyakini satu ramalan
Ramalan yang paling
mendebarkan tentang 2012
tentulah datangnya kiamat
pada 21 Desember nanti –
ada juga yang percaya
tanggal 23 atau 24
Desember. Ramalan ini
bersumber pada kalender
suku Maya --suku bangsa
yang pernah hidup di
Selatan Meksiko, di sekitar
Guatemala. Suku bangsa
yang dikenal mahir dalam
ilmu falak dan sistem
perhitungan masa ini
menyebutkan bahwa hari
itu datang gelombang
galaksi besar yang
membuat macet semua
aktivitas di muka bumi.
Kalender Maya dibuat
berdasarkan Tujuh Zaman
(Usia) Manusia. Zaman
keempat berakhir pada
bulan Agustus 1987.
Kalender Maya akan
berakhir pada Minggu, 23
Desember 2012. Suku Maya
percaya hanya sedikit
orang yang akan bertahan
dari bencana yang terjadi
kemudian. Dalam usia kelima,
manusia akan menyadari
tujuan spiritual. Dalam usia
keenam, manusia akan
menyadari Tuhan berada di
dalam dirinya. Di usia
ketujuh, manusia akan
menjadi begitu spiritualis
dan berkemampuan
telepati.
Sebuah blog di internet,
VANtheyologist, mengutip
pendapat ahli, menyatakan
akan muncul badai matahari.
Badai akan muncul ketika
terjadi ledakan besar (flare)
di atmosfer matahari dan itu
memunculkan daya sekuat
66 juta kali bom atom
Hiroshima. Bersamaan
dengan itu, terjadi juga
»coronal mass ejection”,
juga peristiwa ledakan
yang diduga menyebabkan
lontaran partikel
berkecepatan 400 kilometer
per detik.
Gangguan cuaca matahari
itu mempengaruhi kondisi
antariksa, termasuk
mempengaruhi magnet
planet bumi. Dampaknya
akan terjadi pada sistem
kelistrikan, transportasi
yang mengandalkan global
positioning system, dan juga
komunikasi yang
mengandalkan satelit dan
gelombang frekuensi tinggi.
Sistem kerja alat
kesehatan, seperti alat
pacu jantung, juga
diprediksi akan bermasalah.
Dua prediksi mengerikan ini
barangkali tidak berkaitan.
Kalender bangsa Maya
menghitung hari akhir dari
tahun ke-13 Bak’tun
(siklus 5.125 tahunan), yang
jatuh 21 Desember 2012.
Reaksi orang macam-
macam. Ada sebuah pesta
dansa yang sudah
direncanakan digelar besar-
besaran di Oslo pada malam
20-21 Desember nanti.
Sudah 14 ribu pengguna
Facebook menyatakan hadir
di pesta »perpisahan” itu.
Bangsa Aztec yang pernah
berdiam di Meksiko juga
meyakini kiamat akan
datang pada 2012. Kalender
suci Aztec, yang disebut
Eagle Bowl, mewakili
pergerakan dewa surya
Tonatiuh. Kalender itu
sangat akurat dan telah
digunakan dalam berbagai
bentuk selama lebih dari
2.000 tahun. Sebuah
ramalan dari Eagle Bowl
menyatakan, »Setelah
Sorga Tiga Belas Pilihan
Menurun, dan Sembilan
Neraka Malapetaka yang
Meningkat, Pohon
Kehidupan akan berbunga
dengan buah yang tak
pernah diciptakan
sebelumnya, buah itulah
Spirit Baru Kehidupan.”
Tiga belas Sorga dan
Sembilan Neraka itu
panjangnya masing-masing
52 tahun – sehingga
totalnya 1.144 tahun. Setiap
Sembilan Neraka itu datang,
maka dampaknya lebih
buruk dari yang terakhir.
Hari terakhir Neraka datang
diyakini jatuh pada 17
Agustus 1987. Ketika itu,
Tezcatlipoca, dewa
kematian, menanggalkan
topeng batu giok untuk
mengungkapkan dirinya
sebagai Quetzelcoatl atau
dewa perdamaian.
Dalam mitologi suku Aztec,
usia manusia pertama
berakhir dengan hewan
melahap manusia. Usia
kedua selesai oleh angin,
yang ketiga oleh api, dan
keempat oleh air. Kelima
zaman sekarang itu disebut
Nahui-Olin (Matahari
Gempa), dan dimulai pada
3113 SM dan akan berakhir
pada tanggal 24 Desember
2011.
Tanggal itu akan menjadi
penghancuran terakhir dari
keberadaan manusia di
bumi. Tanggal itu
bertepatan dengan yang
ditentukan oleh McKenna
Bersaudara dalam »The
Invisible Landscape”
sebagai akhir sejarah. Hal ini
mereka tunjukkan atas
dasar analisa komputer dari
kalender kuno Cina yang
disebut I Ching.
Sebelum terlanjur percaya
pada ramalan Maya atau
Aztec, dan Anda bersiap-
siap sembunyi dalam goa
atau berlayar di laut pada
tanggal itu, Anda perlu
menyimak kolom Joel Stein
di Majalah Time edisi 9
Januari. Jurnalis yang
menulis untuk Los Angeles
Times dan kontributor
Majalah Time ini agaknya
penasaran dengan ramalan
kiamat itu.
Stein kemudian
menghubungi David Stuart,
seorang sarjana keturunan
bangsa Maya yang ketika
berusia 18 tahun pada 1984
menerima bea siswa
MacArthur –dan
merupakan penerima
termuda bea siswa itu
sampai sekarang. Ternyata
Stuart tak bisa dihubungi
sebab dia sedang berada di
Guatemala, tapi Stuart
membalas email dari Joel
Stein. Ternyata pendapat
Stuart tentang kiamat itu
sungguh meredakan
kecemasan banyak orang.
»Ramalan akhir dari
kalender (Maya) diciptakan
oleh orang yang
sepenuhnya tidak mengerti
tentang suku bangsa Maya
kuno,” tulis Stuart.
Joel Stein juga menghubungi
Robert Sitler, profesor
bahasa dan literature
modern dari Universitas
Stetson. Sitler pernah
mengembara di kawasan
yang dihuni suku bangsa
Maya, daerah di antara
Meksiko dan Guatemala,
selama 35 tahun. Sitler
bertanya pada 200 orang
Maya tentang apa yang
terjadi pada 21 Desember
2012 –hari terakhir dari
tahun ke-13 Bak’tun.
Menurut Sitler, tak seorang
pun dari orang Maya yang
ditemuinya tahu tentang
kalender Maya. Artinya,
kalender itu sudah tidak
dipergunakan ratusan
tahun. Barangkali karena
mereka menonton film dan
televisi Amerika dua tahun
terakhir yang penuh tema
kiamat, maka sebagian
orang Maya ingat kembali
pada kalender nenek-
moyang mereka dulu.
Bahkan, Sitler yang
diundang ceramah di
beberapa tempat untuk
meluruskan ramalan
tentang kalender Maya itu.
Walau begitu, dalam satu
bagian ceramahnya, Sitler
bercerita tentang ramalan
Mesir kuno tentang akan
datangnya Dewa Bolon
Yokte, pembawa perang,
pertentangan dan
perselisihan.
Stein juga sempat datang
ke Meksiko. Ia bicara
dengan banyak orang
keturunan Maya, bangsa
yang dalam waktu lama
terus menerus diperangi
pemerintah Meksiko. Pada
Stein, orang-orang
berdarah Maya itu
menjelaskan, yang
dimaksud akhir ke-13
Bak’tun bukanlah akhir
zaman, tapi awal dari
sebuah era baru. Tahun
yang lain akan datang,
tahun yang membawa hal-
hal baru.
Anda boleh percaya atau
tidak..
Berbagai sumber/TIME/
Wikipedia/TH
RADIASI BADAI MATAHARI, AMANKAH BAGI MANUSIA ?
- Badai
Matahari yang berlangsung
pada Selasa, 24 Januari
2012, pukul 10.59 WB adalah
yang terkuat sejak tahun
2005. Meski para astronom
mengkategorikan dalam
kelas M-9 alias sudah masuk
kategori kelas tertinggi
atau ekstrem, dampaknya
tak perlu dikhawatirkan.
Radiasi badai matahari itu
tidak merusak tubuh, tapi
hanya mengganggu satelit.
Badan Antariksa Amerika
Serikat (NASA) yang
melakukan pemantauan
merilis pernyataan dalam
webnya bahwa radiasi
badai matahari hanya
mengganggu
telekomunikasi seluler,
siaran televisi, jika lontaran
partikel listrik itu
mengganggu satelit. Amuk
matahari tidak mengganggu
penduduk Bumi. "Hanya
gangguan operasional
satelit dan propagasi radio
gelombang pendek, tapi
tidak mengganggu manusia
di Bumi," begitu bunyi
pernyataan NASA di
situsnya.
Sejauh ini banyak orang
khawatir dengan bahaya
radiasi matahari setelah
badai matahari 2012 yang
berlangsung Selasa
kemarin. Sejumlah orang
khawatir karena beredar
pesan via sms dan
BlackBerry bahwa radiasi
bisa merusak kulit dan
radiasi di telepon seluler.
Sebelumnya Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan)
membantah isu yang
menyebutkan badai
matahari merusak telepon
seluler jika dipakai
menelepon. Bumi memiliki
dua tameng tak kasatmata
yang melindungi
penduduknya dari partikel
badai matahari. "Manusia di
Bumi dan perangkat
teknologi yang
digunakannya aman dari
dampak badai matahari,"
kata Deputi Sains,
Pengkajian, dan Informasi
Kedirgantaraan Lapan,
Thomas Djamaluddin, dalam
penjelasannya, Rabu 25
Januari 2012.
Menurut Thomas, lapisan
magnetosfer merupakan
selubung tak kasatmata
yang dibentuk oleh medan
magnet Bumi. Magnetosfer
ini mengelilingi Bumi pada
jarak 95 ribu kilometer di
atas permukaan Bumi. Sejak
awal terbentuknya Bumi,
lapisan ini menjadi pelindung
semua makhluk dari
serangan partikel
berbahaya, termasuk badai
matahari.
Magnetosfer bekerja
seperti tameng,
membelokkan setiap
partikel yang
menghampirinya. Badai
matahari sendiri nantinya
akan dibelokkan ke arah
kutub Bumi. Di sini tameng
kedua menunggu untuk
"menghancurkan" badai
kiriman matahari.
Tameng kedua tersebut
adalah lapisan atmosfer
yang terdapat pada
ketinggian 80 kilometer di
atas Bumi. Di daerah ini
badai matahari akan
disaring oleh medan magnet
Bumi yang rapat di sekitar
kutub. Akibatnya, badai
yang semula berbahaya
melepaskan energinya
melalui cahaya berbagai
warna atau dikenal sebagai
aurora.
Hal ini sekaligus
menjelaskan kenapa aurora
sering terlihat di sekitar
Kutub Utara dan Kutub
Selatan. Manusia telah lama
bersahabat dengan cahaya
indah ini. Bahkan suku
eskimo yang menempati
daerah di sekitar Kutub
Utara menganggap aurora
sebagai arwah leluhur
mereka yang bersemayam
di langit.
Thomas mengatakan
perlindungan oleh dua
tameng ini membuat
perangkat telepon aman
dipakai selama badai
matahari menghantam Bumi.
"Betapapun kuatnya badai,
penduduk Bumi selalu
terlindung," ujar dia.
WDA | ANTON WILLIAM |
SPACE.COM
Matahari yang berlangsung
pada Selasa, 24 Januari
2012, pukul 10.59 WB adalah
yang terkuat sejak tahun
2005. Meski para astronom
mengkategorikan dalam
kelas M-9 alias sudah masuk
kategori kelas tertinggi
atau ekstrem, dampaknya
tak perlu dikhawatirkan.
Radiasi badai matahari itu
tidak merusak tubuh, tapi
hanya mengganggu satelit.
Badan Antariksa Amerika
Serikat (NASA) yang
melakukan pemantauan
merilis pernyataan dalam
webnya bahwa radiasi
badai matahari hanya
mengganggu
telekomunikasi seluler,
siaran televisi, jika lontaran
partikel listrik itu
mengganggu satelit. Amuk
matahari tidak mengganggu
penduduk Bumi. "Hanya
gangguan operasional
satelit dan propagasi radio
gelombang pendek, tapi
tidak mengganggu manusia
di Bumi," begitu bunyi
pernyataan NASA di
situsnya.
Sejauh ini banyak orang
khawatir dengan bahaya
radiasi matahari setelah
badai matahari 2012 yang
berlangsung Selasa
kemarin. Sejumlah orang
khawatir karena beredar
pesan via sms dan
BlackBerry bahwa radiasi
bisa merusak kulit dan
radiasi di telepon seluler.
Sebelumnya Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan)
membantah isu yang
menyebutkan badai
matahari merusak telepon
seluler jika dipakai
menelepon. Bumi memiliki
dua tameng tak kasatmata
yang melindungi
penduduknya dari partikel
badai matahari. "Manusia di
Bumi dan perangkat
teknologi yang
digunakannya aman dari
dampak badai matahari,"
kata Deputi Sains,
Pengkajian, dan Informasi
Kedirgantaraan Lapan,
Thomas Djamaluddin, dalam
penjelasannya, Rabu 25
Januari 2012.
Menurut Thomas, lapisan
magnetosfer merupakan
selubung tak kasatmata
yang dibentuk oleh medan
magnet Bumi. Magnetosfer
ini mengelilingi Bumi pada
jarak 95 ribu kilometer di
atas permukaan Bumi. Sejak
awal terbentuknya Bumi,
lapisan ini menjadi pelindung
semua makhluk dari
serangan partikel
berbahaya, termasuk badai
matahari.
Magnetosfer bekerja
seperti tameng,
membelokkan setiap
partikel yang
menghampirinya. Badai
matahari sendiri nantinya
akan dibelokkan ke arah
kutub Bumi. Di sini tameng
kedua menunggu untuk
"menghancurkan" badai
kiriman matahari.
Tameng kedua tersebut
adalah lapisan atmosfer
yang terdapat pada
ketinggian 80 kilometer di
atas Bumi. Di daerah ini
badai matahari akan
disaring oleh medan magnet
Bumi yang rapat di sekitar
kutub. Akibatnya, badai
yang semula berbahaya
melepaskan energinya
melalui cahaya berbagai
warna atau dikenal sebagai
aurora.
Hal ini sekaligus
menjelaskan kenapa aurora
sering terlihat di sekitar
Kutub Utara dan Kutub
Selatan. Manusia telah lama
bersahabat dengan cahaya
indah ini. Bahkan suku
eskimo yang menempati
daerah di sekitar Kutub
Utara menganggap aurora
sebagai arwah leluhur
mereka yang bersemayam
di langit.
Thomas mengatakan
perlindungan oleh dua
tameng ini membuat
perangkat telepon aman
dipakai selama badai
matahari menghantam Bumi.
"Betapapun kuatnya badai,
penduduk Bumi selalu
terlindung," ujar dia.
WDA | ANTON WILLIAM |
SPACE.COM
Rabu, 25 Januari 2012
BADAI MATAHARI PERNAH TERJADI PADA 1 SEPTEMBER 1859
tepatnya 1
September 1859, salah
seorang astronom
terkenal di Inggris Richard
Carrington tengah
mengamati matahari.
Dengan menggunakan
alat filter, dia mempelajari
permukaan matahari
melalui teleskopnya.
Namun, dia begitu
terperanjat saat
mengetahui ada kilatan
cahaya terang keluar dari
permukaan matahari.
Tanpa diketahuinya, pada
hari itu telah terjadi badai
matahari yang
diprediksikan dunia akan
terulang kembali pada 1
September 2012.
Melansir pemberitaan
Daily Mail, Selasa (21/4)
dikisahkan Carrington
mencatat titik cahaya
terang yang merupakan
awan plasma menuju ke
bumi. Sekitar 48 jam
kemudian dampaknya
mulai terasa luar biasa.
Miliaran aurora menyinari
langit malam di bumi.
Cahayanya sungguh kuat
sehingga membuat kita
mampu membaca di
tengah malam.
Sementara itu, di
California, sekelompok
pekerja tambang emas
bangun lebih awal dari
biasanya akibat cahaya
terang yang mereka
sangka sudah pagi hari.
Padahal jam di saat itu
menunjukkan pukul 2 dini
hari. Sejumlah operator
telegraf menerima
kejutan listrik tak
beraturan akibat arus
listrik matahari
menghantam jaringan
telekomunikasi. Saat itu
dunia seakan-akan
bermandikan listrik.
Menurut laporan “New
Scientist”, badai
matahari atau solar storm
adalah siklus kegiatan
peledakan dahsyat dari
masa puncak kegiatan
bintik matahari (sunspot),
biasanya setiap 11 tahun
akan memasuki periode
aktivitas badai matahari.
Ilmuwan Amerika baru-
baru ini memperingatkan
bahwa pada tahun 2012
bumi akan mengalami
badai matahari dahsyat
(Solar Blast), daya
rusaknya akan jauh lebih
besar dari badai angin
“Katrina”, dan hampir
semua manusia di bumi
tidak akan dapat
melepaskan diri dari
dampak bencananya.
Daniel Becker dari
University of Colorado
seorang ahli cuaca
angkasa menjelaskan,
“Sekarang ini kita
semakin dekat dengan
kemungkinan bencana ini.
Jika manusia tidak dapat
mempersiapkan diri
dengan matang terhadap
bencana badai matahari
yang akan menimpa ini.
Badai matahari ini
mungkin akan
memutuskan pasokan
listrik umat manusia,
sinyal ponsel, bahkan
termasuk sistem pasokan
air.”
sumber ttp://
tidakmenarik.wordpress.com/2009/04/22/
badai-matahari-pernah-
terjadi-pada-1-
september-1859/
September 1859, salah
seorang astronom
terkenal di Inggris Richard
Carrington tengah
mengamati matahari.
Dengan menggunakan
alat filter, dia mempelajari
permukaan matahari
melalui teleskopnya.
Namun, dia begitu
terperanjat saat
mengetahui ada kilatan
cahaya terang keluar dari
permukaan matahari.
Tanpa diketahuinya, pada
hari itu telah terjadi badai
matahari yang
diprediksikan dunia akan
terulang kembali pada 1
September 2012.
Melansir pemberitaan
Daily Mail, Selasa (21/4)
dikisahkan Carrington
mencatat titik cahaya
terang yang merupakan
awan plasma menuju ke
bumi. Sekitar 48 jam
kemudian dampaknya
mulai terasa luar biasa.
Miliaran aurora menyinari
langit malam di bumi.
Cahayanya sungguh kuat
sehingga membuat kita
mampu membaca di
tengah malam.
Sementara itu, di
California, sekelompok
pekerja tambang emas
bangun lebih awal dari
biasanya akibat cahaya
terang yang mereka
sangka sudah pagi hari.
Padahal jam di saat itu
menunjukkan pukul 2 dini
hari. Sejumlah operator
telegraf menerima
kejutan listrik tak
beraturan akibat arus
listrik matahari
menghantam jaringan
telekomunikasi. Saat itu
dunia seakan-akan
bermandikan listrik.
Menurut laporan “New
Scientist”, badai
matahari atau solar storm
adalah siklus kegiatan
peledakan dahsyat dari
masa puncak kegiatan
bintik matahari (sunspot),
biasanya setiap 11 tahun
akan memasuki periode
aktivitas badai matahari.
Ilmuwan Amerika baru-
baru ini memperingatkan
bahwa pada tahun 2012
bumi akan mengalami
badai matahari dahsyat
(Solar Blast), daya
rusaknya akan jauh lebih
besar dari badai angin
“Katrina”, dan hampir
semua manusia di bumi
tidak akan dapat
melepaskan diri dari
dampak bencananya.
Daniel Becker dari
University of Colorado
seorang ahli cuaca
angkasa menjelaskan,
“Sekarang ini kita
semakin dekat dengan
kemungkinan bencana ini.
Jika manusia tidak dapat
mempersiapkan diri
dengan matang terhadap
bencana badai matahari
yang akan menimpa ini.
Badai matahari ini
mungkin akan
memutuskan pasokan
listrik umat manusia,
sinyal ponsel, bahkan
termasuk sistem pasokan
air.”
sumber ttp://
tidakmenarik.wordpress.com/2009/04/22/
badai-matahari-pernah-
terjadi-pada-1-
september-1859/
Langganan:
Postingan (Atom)