Sabtu, 28 Januari 2012

THE ISLAND OF TEMPLES

SENI BUDAYA JAWA
TENGAH
Kebudayaan Jawa
merupakan salah satu
sosok kebudayaan yang
tua. Kebudayaan Jawa
mengakar di Jawa
Tengah bermula dari
kebudayaan nenek
moyang yang bermukim di
tepian Sungai Bengawan
Solo pada ribuan tahun
sebelum Masehi. Fosil
manusia Jawa purba yang
kini menghuni Museum
Sangiran di Kabupaten
Sragen, merupakan saksi
sejarah, betapa tuanya
bumi Jawa Tengah
sebagai kawasan
pemukiman yang dengan
sendirinya merupakan
suatu kawasan budaya.
Dari kebudayaan purba
itulah kemudian tumbuh
dan berkembang sosok
kebudayaan Jawa klasik
yang hingga kini terus
bergerak menuju
kebudayaan Indonesia.
Kata klasik ini berasal dari
kata Clacius, yaitu nama
orang yang telah berhasil
menciptakan karya
sastra yang mempunyai
“nilai tinggi”. Maka
karya sastra yang tinggi
nilainya hasil karya
Clacius itu dinamakan
“Clacici”. Padahal
Clacici adalah golongan
ningrat/bangsawan,
sedangkan Clacius
termasuk golongan
ningrat, oleh karena itu
hasil karya seni yang
mempunyai nilai tinggi
disebut “seni klasik”.
Bengawan Solo bukan
hanya terkenal dengan
lagu ciptaan Gesang akan
tetapi lebih daripada itu
lembahnya terkenal
sebagai tempat dimana
banyak sekali
diketemukan fosil dan
peninggalan awal sejarah
kehidupan di atas bumi ini.
Pada tahun 1891 Eugene
Dubois menemukan sisa-
sisa manusia purba yang
diberi nama
“Phitecanthropus
Erectus” di daerah Trinil,
Ngawi Karesidenan
Madiun. Ternyata fosil-
fosil itu lebih purba (tua)
dan lebih primitif daripada
fosil-fosil Neanderthal
yang ditemukan di Eropa
sebelumnya. Penggalian-
penggalian diteruskan
hingga pada sekitar
tahun 1930-1931
ditemukan lagi fosil
manusia di Ngandong dan
di Kedungbrubus daerah
Sangiran. Fosil ini lebih tua
dari yang ditemukan di
Jerman maupun di Peking.
Berbeda dengan
penemuan di bagian dunia
lain, penemuan fosil-fosil
pulau Jawa didapat pada
semua lapisan Pleistoceen
dan tidak hanya pada
satu lapisan saja. Hingga
nampak jelas
perkembangan manusia
sejak dari bentuk
‘keorangan’nya yang
mula-mula (homonide),
sedang dari bagian lain di
dunia penemuan-
penemuan itu tidak
memberi gambaran yang
sedemikian lengkap.
Manusia purba itu
diperkirakan hidup dalam
kelompok-kelompok kecil
bahkan mungkin dalam
keluarga-keluarga yang
terdiri dari enam shingga
duabelas individu. Mereka
hidup berburu binatang di
sepanjang lembah-
lembah sungai. Cara hidup
seperti ini agaknya tetap
berlangsung selama satu
juta tahun. Kemudian
diketemukan sisa-sisa
artefak yang terdiri dari
alat-alat kapak batu di
sebuah situs di dekat
desa Pacitan, dalam
lapisan bumi yang
berdasarkan data geologi
diperkirakan berumur
800.00 tahun dan
diasosiasikan dengan fosil
Pithecanthropus yang
telah berevolusi lebih
jauh. Dengan demikian
diperkirakan bahwa
sejak paling sedikit
800.000 tahun yang lalu
para pemburu di pulau
Jawa sudah memiliki
suatu kebudayaan.
Manusia dan kebudayaan
merupakan suatu
kesatuan yang erat
sekali. Kedua-duanya
tidak mungkin dipisahkan.
Ada manusia ada
kebudayaan, tidak akan
ada kebudayaan jika
tidak ada pendukungnya,
yaitu manusia. Akan
tetapi manusia itu
hidupnya tidak berapa
lama, ia lalu mati. Maka
untuk melangsungkan
kebudayaan,
pendukungnya harus
lebih dari satu orang,
bahkan harus lebih dari
satu turunan. Jadi harus
diteruskan kepada anak
cucu keturunan
selanjutnya.
Kebudayaan Jawa klasik
yang keagungannya
diakui oleh dunia
internasional dapat dilihat
pada sejumlah warisan
sejarah yang berupa
candi, stupa, bahasa,
sastra, kesenian dan adat
istiadat. Candi Borobudur
di dekat Magelang, candi
Mendut, candi Pawon,
Candi Prambanan di dekat
Klaten, candi Dieng, candi
Gedongsongo dan candi
Sukuh merupakan
warisan kebudayaan
masa silam yang tak
ternilai harganya. Teks-
teks sastra yang
terpahat di batu-batu
prasasti, tergores di daun
lontar dan tertulis di
kitab-kitab merupakan
khasanah sastra Jawa
klasik yang hingga kini
tidak habis-habisnya
dikaji para ilmuwan. Ada
pula warisan kebudayaan
yang bermutu tinggi
dalam wujud seni tari,
seni musik, seni rupa, seni
pedalangan,seni
bangunan (arsitektur),
seni busana, adat istiadat,
dsbnya.
Masyarakat Jawa Tengah
sebagai ahli waris
kebudayaan Jawa klasik
bukanlah masyarakat
yang homogen atau
sewarna, melainkan
sebuah masyarakat
besar yang mekar dalam
keanekaragaman budaya.
Hal itu tercermin pada
tumbuhnya wilayah-
wilayah budaya yang
pada pokoknya terdiri
atas wilayah budaya
Negarigung, wilayah
budaya Banyumasan dan
wilayah budaya Pesisiran.
Wilayah budaya
Negarigung yang
mencakup daerah
Surakarta – Yogyakarta
dan sekitarnya
merupakan wilayah
budaya yang bergayutan
dengan tradisikraton
(Surakarta dan
Yogyakarta). Wilayah
budaya Banyumasan
menjangkau daerah
Banyumas, Kedu dan
Bagelen. Sedangkan
wilayah budaya pesisiran
meliputi daerah Pantai
Utara Jawa Tengah yang
memanjang dari Timur ke
Barat.
Keragaman budaya
tersebut merupakan
kondisi dasar yang
menguntungkan bagi
mekarnya kreatifitas
cipta, ras dan karsa yang
terwujud pada sikap
budaya.
Di daerah Jawa Tengah
segala macam bidang seni
tumbuh dan berkembang
dengan baik, dan hal ini
dapat kita saksikan pada
peninggalan-peninggalan
yang ada sekarang.
Provinsi Jawa Tengah
yang merupakan satu
dari sepuluh DTW (Daerah
Tujuan Wisata) di
Indonesia dapat dengan
mudah dijangkau dari
segala penjuru, baik
darat, laut maupun udara.
Provinsi ini telah melewati
sejarah yang panjang,
dari jaman purba hingga
sekarang.
Dalam usaha
memperkenalkan daerah
Jawa Tengah yang kaya
budaya dan potensi
alamnya, Provinsi Jawa
Tengah sebagaimana
provinsi-provinsi lain di
Indonesia, mempunyai
anjungan daerah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” yang juga
disebut “Anjungan Jawa
Tengah”. Anjungan
Jawa Tengah Taman Mini
“Indonesia Indah”
merupakan “show
window” dari daerah
Jawa Tengah.
Anjungan Jawa Tengah di
Taman Mini “Indonesia
Indah” dibangun untuk
membawakan wajah
budaya dan
pembangunan Jawa
Tengah pada umunya.
Bangunan induk beserta
bangunan lain di
seputarnya secara
keseluruhan merupakan
kompleks perumahan
yang dinamakan
“Padepokan Jawa
Tengah”, yang
berarsitektur Jawa asli.
Bangunan induknya
berupa “Pendopo
Agung”, tiruan dari
Pendopo Agung Istana
Mangkunegaran di
Surakarta, yang diakui
sebagai salah satu pusat
kebudayaan Jawa.
Propinsi Jawa Tengah
juga terkenal dengan
sebutan “The Island of
Temples”, karena
memang di Jawa Tengah
bertebaran candi-candi.
Miniatur dari candi
Borobudur, Prambanan
dan Mendut ditampilkan
pula di Padepokan Jawa
Tengah. Padepokan Jawa
Tengah juga merupakan
tempat untuk mengenal
seni bangunan Jawa yang
tidak hanya berupa
bangunan rumah tempat
tinggal tetapi juga seni
bangunan peninggalan
dari jaman
Sanjayawangça dan
Syailendrawangça.
Pendopo Agung yang
berbentuk ”Joglo
Trajumas” itu berkesan
anggun karena atapnya
yang luas dengan
ditopang 4 (empat) Soko
guru (tiang pokok), 12
(dua belas) Soko Goco dan
20 (dua puluh) Soko
Rowo. Kesemuanya
membuat penampilan
bangunan itu berkesan
momot, artinya
berkemampuan
menampung segala hal,
sesuai dengan fungsinya
sebagai tempat menerima
tamu. Bangunan Pendopo
Agung ini masih
dihubungkan dengan
ruang Pringgitan, yang
aslinya sebagai tempat
pertunjukan ringgit atau
wayang kulit. Pringgitan
ini berarsitektur Limas.
Bangunan lain adalah
bentuk-bentuk rumah
adat “Joglo Tajuk
Mangkurat”, “Joglo
Pangrawit Apitan” dan
rumah bercorak “Doro
Gepak”.
Sesuai dengan fungsinya
Anjungan Jawa Tengah
selalu mempergelarkan
kesenia-kesenian daerah
yang secara tetap
didatangkan dari
Kabupaten-kabupaten /
Kotamadya di Provinsi
Jawa Tengah di samping
pergelaran kesenian dari
sanggar-sanggar yang
ada di Ibukota, dengan
tidak meninggalkan
keadiluhungan nilai-nilai
budaya Jawa yang hingga
kini masih tampak
mewarnai berbagai aspek
seni budaya itu sendiri,
adat-istiadat dan tata
cara kehidupan
masyarakat Jawa
Tengah.
Bangunan Joglo
Pangrawit Apitan di
Anjungan Jawa Tengah
TMII terletak
bersebelahan dengan
sebuah panggung
terbuka yang berlatar
belakang sebuah bukit
dengan bangunan Makara
terbuat dari batu cadas
hitam bertuliskan kata-
kata “Ojo Dumeh”
dalam huruf Jawa
berukuran besar.
Perkataan Ojo Dumeh
mempunyai makna yang
dalam, sebab artinya,
“Jangan Sombong”,
sebuah anjuran untuk
senantiasa mampu
mengendalikan diri, justru
di saat seseorang merasa
mempunyai keberhasilan.
Di panggung inilah
pengunjung dapat
menyaksikan pergelaran
acara khusus Anjungan
yang biasanya
merupakan acara-acara
pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar